Arsip Blog

Selasa, 09 Februari 2016

Pembelajaran Hidup Dari Mendaki Gunung

Mendaki Gunung adalah kegiatan yang digandrungi anak muda di Indonesia saat ini. Apalagi di dukung oleh acara-acara advanture di televisi. Membuat hasrat untuk mendaki semakin tinggi.

Banyak teman-teman saya yang sudah duluan mencoba untuk mendaki. Mereka sudah mendaki di beberapa gunung yang ada di Pulau Jawa. Seperti Gunung Welirang, Gunung Arjuna, Gunung Kelud, Gunung Welirang hingga Gunung Semeru atau Mahameru. Kalau saya sih belum, mungkin lain kali saya mencoba untuk mendaki Gunung.

Kata mereka, apabila mendaki gunung, kita akan tahu sifat asli dari seseorang tersebut. Sifat manja, sifat emosian, sifat egois, sifat saling tolong menolong dll akan keluar dan tidak akan bisa ditutup-tutupi.



Mendaki Gunung pun mengajarkan tentang kehidupan bagi kita. Mungkin ini sudah bukan rahasia umum lagi. Tapi disini saya akan merangkum dari cerita teman-teman saya yang pernah mendaki dan diambil hikmanya untuk di aplikasikan di kehidupan.

Dan berbagi kepada teman-teman yang belum tahu. Dan mengingatkan kembali bagi teman- teman yang sudah tahu. Supaya nantinya bersemangat untuk mengarungi hidup. Oke, tanpa basa-basi lagi saya akan membahasnya.

1.  Ada Target Yang Dicapai

Sebelum mendaki Gunung, seseorang maupun kelompok pendaki selalu membahas target yang nantinya akan dicapai. Target yang ditentukan pun berbeda-beda. Tergantung dari individu maupun kelompok masing-masing.

Ada yang menargetkan bisa melihat Sunset, ada yang menargetkan bisa melihat Sunrise, ada yang menargetkan satu perjalanan mendaki dua puncak Gunung dan lain sebagainya.

Sama seperti kehidupan, seseorang harus mempunyai target yang akan dicapai. Supaya hidup ini nantinya akan bermakna dan tidak datar-datar saja.

Dan apabila hidup tidak ada targetnya, mungkin akan mengalami kebosanan. Menjalani rutinitas yang sama. Tidak ada greget dan tidak ada tantangannya. Selalu berada di zona nyaman.

2. Perencanaan Yang Matang

Setelah target ditentukan, baru membuat rencana. Rencana berangkat ke tempat lokasi tersebut jam berapa. Sampai di gerbang pendakian jam berapa.

Start perjalanan ke pendakian jam berapa. Sampai ke pos-pos di pendakian jam berapa. Berhenti untuk ngecamp jam berapa. Mulai naik ke puncak jam berapa. Turun dari puncak jam berapa.

Semua di list secara jelas. Supaya tahu perkiraannya lama perjalanan dan sampai puncaknya. Peta serta medan perjalanannya harus tahu juga supaya tidak tersesat dan tidak masuk jurang.

Di dalam kehidupan, manusia harus membuat perencanaan yang matang setelah membuat targetan. Supaya targetannya bisa tercapai.

Membuat strategi-strategi dan membuat perencanaan manajemen waktu. Serta memetakan kemungkinan yang terjadi supaya tidak kaget menghadapinya.

Dan juga membuat rencana cadangan apabila rencana yang pertama gagal. Jangan membuat rencana cadangan hanya satu opsi saja, tapi buatlah dua, tiga bahkan sepuluh opsi kalau memang bisa. Supaya target bisa tercapai dan tidak berhenti ditengah jalan.

Kebanyakan dari kita sudah membuat rencana utama tetapi tidak membuat rencana cadangan. Sehingga ditengah jalan akan menyerah dan berhenti karena tidak sesuai rencana utama.

3. Persiapan Yang Harus Disiapkan

Setelah membuat rencana, para pendaki harus tahu apa yang dipersiapkan. Seperti membawa tenda, obat-obatan, makanan, pakaian ganti, senter dsb.

Para pendaki juga mempersiapkan fisik, mental dsb. Agar pendaki siap dan mampu bertahan dalam menjalani perjalanan pendakian.

Begitu juga kehidupan, manusia harus mempersiapkan mengumpulkan mental, tekad, semangat dan rasa optimisme yang kuat. Karena menjalani kehidupan yang mempunyai target itu tidaklah mudah. Ada tantangan yang harus ditaklukan.

Dan ada tekananan yang begitu hebat dari kehidupan biasanya. Tekanan itu biasanya berasal dari orang yang tidak senang, orang yang meremehkan, orang yang sok dsb. Oleh karena itu persiapannya harus benar-benar dipersiapkan dengan matang.

Kalau tidak, kita akan mundur dan menyerah ditengah jalan. Kalau sudah menyerah, target yang ingin dicapai tak akan bisa tercapai dan hanya menjadi mimpi atau angan saja.

4. Saat Tiba Di Lokasi Pendakian

Di saat tiba lokasi pendakian, para pendaki melihat medan yang harus dilalui. Bukit-bukit yang terjal, jalan bebatuan, hutan-hutan dengan pohon yang menjulang tinggi, suara-suara khas di alam bebas dan angin dingin yang menusuk di sela-sela tulang.

Belum lagi kemungkinan ada binatang buas di dalam perjalanan nanti. Dan ketika para pendaki lain yang turun dengan wajah capek dan kelelahan. Disitulah para pendaki dihadapkan sebuah pilihan. Apakah masih melanjutkan mendaki atau kembali pulang ke rumah?.

Sama halnya dengan kehidupan, setelah menentukan target, membuat rencana dan mempersiapkan mental, fisik dsb. Mulai melakukan aksi dan melaksanakan rencana di kehidupan nyata. Disinilah awal-awal kebimbangan dan mulai banyak penawaran.

Dari teman-teman dan lingkungan kita biasanya ada mengajak bersantai-santai saja dan ada yang mengajak bersenang-senang saja. Padahal untuk mencapai target tidak bisa dilakukan dengan santai apalagi senang-senang. Dari situ muncul beberapa pertanyaan dalam diri.

Apakah saya bisa melaksanakan rencana yang sudah dibuat?. Apakah saya sanggup merasakan sakit dan tekanan yang akan dihadapinya?. Apakah saya santai-santai saja seperti kebanyakan orang?. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul nantinya.

Kenapa demikian?. Karena saat sudah membuat target dan rencana yang matang, nantinya pasti akan meninggalkan kenyamanan yang biasa dirasakan dan merasakan sakit atau pahitnya kehidupan.

5. Sebuah Perjalanan

Setelah pendaki memutuskan untuk melanjutkan mendaki, para pendaki melakukan sebuah perjalanan. Sambil membawa tas yang berisi logistik, para pendaki berjalan di jalan tanah kering berbatuan terkadang becek. Melewati hutan lebat dan semak-semak belukar. Menaiki bukit dan menuruni lembah.

Belum lagi cuaca yang tidak bisa ditebak. Terkadang panas, terkadang mendung dan dingin lalu turun hujan lebat. Sebuah perjuangan yang tidak mudah dilalui. Dan memang harus ada yang dikorbankan. Rasa capek, keringat yang bercucuran, terkena sinar matahari dan hawa dingin yang terasa khas dataran tinggi.

Sama seperti halnya kehidupan, dalam sebuah perjalanannya, tidak selalu berjalan mulus seperti yang diinginkan. Ada kerikil-kerikil kecil yang menghambat.

Kerikil itu bisa berasal dari diri sendiri seperti rasa malas, takut yang berlebihan, pesimis, dsb. Dan kerikil juga bisa berasal dari faktor luar seperti teman-teman kita, lingkungan kerja, lingkungan bermain, pacar, dsb. Inilah yang dinamakan proses dari perjalanan. Yang namanya proses pastilah tidak langsung dan instan.

Oleh karena itu kita harus mempunyai yang namanya fokus. Fokus pada targetan-targetan dan rencana awal yang sudah disusun. Apabila rencana awal tidak sesuai dengan kenyataan, kita sudah punya rencana cadangan yang dibuat sebelumnya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa mencapai target.

6. Beristirahat

Setelah tegang melaksanakan rencana dan melakukan perjalanan hidup yang memang tidak mudah dilalui. Tubuh ini juga perlu yang namanya istirahat.

Melemaskan otot-otot dan syaraf-syaraf yang sudah tegang. Serta merefreshkan otak yang terus berpikir keras pada pilihan-pilihan hidup. Sambil melakukan evaluasi diri dan mempersiapkan perjalanan hidup nanti.

Sama halnya dengan mendaki gunung. Setelah lama berjam-jam, berpuluh-puluh kilometer melakukan perjalanan. Pendaki merebahkan tubuhnya dan mengisi perut dengan makan. Sambil menikmati alam yang ada di sekitarnya. Supaya kuat untuk melanjutkan perjalanan mendakinya.

7. Mendaki Menuju Puncak Gunung

Dalam kehidupan, inilah adalah sebuah proses perjalanan menuju akhir. Kata akhir disini adalah semakin mendekati target. Target yang diimpi-impikan selama ini. Dan untuk mendekati target itulah tidak makin mudah.

Justru sebaliknya, semakin banyak cobaan yang harus dihadapi. Jalannya pun semakin terjal menanjak. Rintangan semakin besar dari yang biasanya. Harus bekerja keras lebih ekstra. Agar kuat dan sampai targetnya.

Sama halnya dengan mendaki, para pendaki biasanya meninggalkan logistik yang tidak perlu. Dan membawa logistik yang perlu dan dimasukkan kedalam tas kecil. Karena medannya yang begitu sulit dan terjal.

Semangatnya juga harus lebih besar dari yang biasanya. Dan disinilah moment dari para pendaki. Penentu untuk dikatakan sukses tidaknya para pendaki mencapai sebuah akhir yaitu puncak gunung.

8. Puncak Gunung

Inilah titik terakhir dari para pendaki. Titik yang diimpi-impikan para pendaki dari sebuah perjalanan yang begitu panjang. Berjam-jam dan berpuluh kilometer berjalan. Menghadapi medan jalan yang begitu sulit dan cuaca yang berubah-ubah.

Kaki yang mulai bergemetar dan nafas yang mulai terengah-engah. Semuanya akan terbayar dengan lukisan-lukisan dari Allah. Langit yang biru di selimuti kabut dingin. Belum lagi awan putih seperti kapas melayang. Seolah pemandangan yang sempurna. Rasa syukur akan terpanjatkan. Bisa melihat pemandangan yang seindah itu.

Begitu halnya dengan kehidupan, setelah melewati berbagai rintangan. Melewati banyaknya pilihan-pilihan kehidupan dan bisa keluar dari zona kenyamanan. Akhirnya kita bisa merasakan manisnya hidup. Tetapi tetap menghargai sebuah proses yang begitu panjang.

Selalu bersyukur, karena Allah memberikan kesempatan bernafas sehingga target yang diimpi-impikan telah menjadi nyata. Tetapi ingat ini adalah target bukanlah tujuan dari hidup. Jadi jangan pernah terlena dengan pencapaiannya. Karena tujuan terakhir adalah alam yang lain bukan yang sekarang.

Semoga bermanfaat









Tidak ada komentar:

Posting Komentar